#30 Hari Sukir Bercerita

Dì kampung halaman saya, ada seorang anak yang begitu masyhur namanya dalam dunia perikanan dan penjinak hewan-hewan berbisa. Ia begitu lihai mencari ikan dan memiliki keterampilan menaklukkan ular-ular berbisa yang menakutkan.

Semasa kecil, ketika masih hobi menyusuri sungai sambil menenteng joran, saya pernah melihat sendiri bagaimana lelaki bebrapa tahun lebih tua di atas saya ini beraksi. Tangannya cekatan menerkam buntut ular yang sedang melata santai mengarungi bebatuan sungai. Lalu ia memutar-mutarkan ular itu di atas kepalanya beberapa kali, hingga akhirnya ular tersebut terkulai lemas tak berdaya.

Dalam urusan memancing juga demikian, ia memiliki keberuntungan dan skill lebih baik ketimbang saya dan teman-teman lainnya. Mencari ikan baginya semacam berbelanja di pasar. Keluarkan uang, barang bawa pulang. Pasang umpan, ikan didapatkan. Sedangkan saya dan teman-teman setiap memancing selalu dijari Tuhan bagaimana cara untuk bersabar.

Keheranan saya kepada Lek Sukir, begitu saya memanggilnya, membuat saya ngangsu kaweruh kepada Simbah Kakung soal teknik memancing dan doa-doa yang harus dirapal. Setiap kali memancing, saya mempraktikkan teknik-teknik dan merapal doa yang diajarkan Simbah Kakung, mulai dari jangan melangkahi joran sampai merapal doa-doa Jawa yang telah diijazahkan. Tetapi hasilnya tetap nihil. Kail saya kalo ga digigir Yuyu, ya kecantol carang.

Barangkali inilah yang didhawuhkan Ibn Atahillah dalam Kitab Al Hikam, “Kehendak kuatmu yang sudah engkau tetapkan lebih dahulu, tak akan bisa melubangkan atau menembus tembok-tembok kepastian (taqdir) yang sudah ditentukan Tuhan”.

Begitulah selanjutnya Lek Sukir diam-diam saya kagumi dan namanya banyak saya dedikasikan di dalam tulisan saya. Dan pada 30 hari ke depan, saya akan mengabadikan namanya sebagai tokoh dalam cerita saya. Tidak untuk menceritakan keahliannya dalam memancing dan keberaniannya menangkap ular, melainkan sebagai tokoh bijak nan lihai dalam menanggapi permaslahan sosial keagamaan dalam bingkai perpolitikan cebong-kampret, yang semakin gilani dan amoral.

*30 Hari Sukir Bercerita akan saya terbitkan di blog pribadi ibilonta.wordpress.com, sebagai satu upaya mengembalikan pola hidup yang lebih terstruktur, tertata dan produktif.

Sampai bertemu di imajinasi-imajinasi yang tiada batas, Sedulur. Beginilah cara saya melawan.

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.