10 Menit yang Mengesankan bagi Perokok

Bagi perokok berat macam saya, 10 menit saat kereta berhenti adalah waktu yang sangat membahagiakan.

Pasca memutuskan berhenti bekerja di kantor konsultan informasi publik enam bulan lalu, saya kemudian bekerja di Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) dan memfokuskan diri menyelesaikan beberapa naskah buku yang sempat tersendat.

Dua tahun bergiat di dunia keterbukaan informasi publik dan riwa-riwi di beberapa kementerian untuk membantu mereka dalam upaya terbuka kepada masyarakat, tidak kemudian mempersulit saya beradaptasi dengan pekerjaan baru ini. Pekerjaan menjaga kretek sebagai warisan kebudayaan bangsa, yang notabene sangat dekat dengan keseharian keluarga saya: petani tembakau.

Hidup saya memang tidak seberuntung orang-orang di luar sana, atau bahkan Anda yang sedang membaca tulisan ini. Bayangkan, saya belajar tafsir hadis saat masih kuliah, tapi saya tidak jadi kiai, atau setidak-tidaknya jadi penceramahlah, macam pekerjaan yang lagi ngetren saat ini (saya tidak pernah sepakat, berdakwah masuk sebagai salah satu pekerjaan), malah saya bekerja di media, di kantor konsultan informasi publik, dan sekarang di sektor pertembakauan. Rak nyambung! Dari sinilah saya semakin yakin, bahwa saya bisa ini itu bukan dari kampus, melainkan dari warkop ke warkop, dari organisasi ke organisasi.

Bekerja di kantor konsultan informasi publik dan sektor pertembakauan tentu saja amat jauh berbeda. Dari gaya bekerjanya, peraturannya, intensitas pekerjaannya. Jika dulu sering keluar masuk pintu kementerian, membaca setumpuk dokumen kemudian menganalisanya menjadi satu kajian akademik, sekarang saya banyak menghabiskan waktu di depan komputer untuk mengamati isu-isu lingkup pertembakauan, melawan kampanye antirokok yang penuh intrik, menulis dan sesekali berinteraksi dengan para petani, baik secara langsung maupun melalui dunia maya.

(Silahkan buka website bolehmerokok.com untuk belajar lebih lanjut perihal dunia pertembakauan dan segala macam yang terkait, karena bicara dunia pertembakauan adalah bicara Indonesia.)

Hampir sebulan sekali, saya dan beberapa rekan sering plesiran ke daerah-daerah. Dua moda transportasi utama yang sering saya gunakan adalah kereta dan pesawat (ini hanya sesekali saja jika kebetulan punya uang lebih atau sedang dalam keadaan darurat).

Setiap tiba di stasiun atau bandara, setelah check in yang kemudian saya lakukan adalah mencari smoking area untuk berkumpul dengan para ahlul hisap lainnya.

Di sinilah yang perlu diketahui oleh seluruh perokok di Indonesia, sebagai bangsa yang mengutamakan kesantunan, kita sebagai perokok juga harus senantiasa santun dalam menunaikan ibadah hisap. Pastikan merokok di ruang merokok, jangan merokok dekat anak-anak, ibu hamil dan saat berkendara.

Sebaliknya, pemerintah juga harus menyediakan ruang merokok di ruang-ruang publik untuk menghormati hak perokok dan menjaga yang tidak merokok agar tidak terpapar asap rokok. Merokok atau tidak adalah kegiatan yang konstitusional dan dilindungi undang-undang. Jadi, sudah kewajiban pemerintah untuk menghormati hak dan kewajiban keduanya (perokok dan bukan perokok). Jangan sampai berat sebelah.

Smoking area adalah surga yang begitu nyata bagi saya dan mungkin bagi para perokok lainnya. Di sana, saya bisa merokok sampai dobolen, sebelum melaksanakan perjalanan panjang tanpa rokok.

Kereta dan pesawat di Indonesia tentu saja kalah jika dibandingkan dengan bus-bus malam. Jika kereta dan pesawat belum ada ruang merokok, bus-bus malam sekarang sudah dilengkapi dengan ruang merokok. Biasanya di depan dekat sopir atau belakang. Tentu saja diskat kaca supaya tidak mengganggu penumpang lainnya.

Di dalam bus itulah bentuk sederhana implementasi penghormatan terhadap perokok dan bukan perokok bisa dengan mudah dipelajari.

Saat perjalanan menggunakan kereta api jalur Jawa (Jakarta-Jogja) (Jakarta-Surabaya), setiap pemberhentian di stasiun-stasiun, seperti Cirebon, Tegal, dan lain sebagainya, adalah waktu yang paling membahagiakan. Bagaimana tidak, setelah berjam-jam puasa merokok, akhirnya berbuka juga. Meski hanya punya waktu 10 menit untuk menikmati sebatang atau dua batang kretek, tapi hal itu entah begitu membahagiakan dan menggembirakan.

Dengan saya melakukan penantian kapan kereta berhenti di staisun-stasiun yang disinggahi, bukan berarti saya kecanduan rokok. Wong rokok mengandung zat adiktif sudah dibantah oleh banyak peneliti dan jika rokok itu memang candu, selama ramadan kemarin seharusnya saya sudah kejang-kejang sakaw. Tapi nyatanya ya tidak.

Ini hanya semacam penantian atas sebuah harapan seorang kekasih hati mengembangkan senyum saat kita turun dari kereta atau pesawat dan memberikan pelukan hangat untuk melepas kerinduan.

Merokok di stasiun transit memang memberikan nuansa dan sensasi yang sangat berbeda. Di tengah ketergesaan itulah, saya bisa belajar menyelami jiwa dengan hisapan-hisapan yang dalam dan asap yang berbau harus semerbak, seperti aroma kebahagiaan petani ketika panennya terjual mahal.

Stasiun Cirebon, 23 Juli 2018 || 00.16

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.