Mbah Suraji

Sesampainya di depan gerbang keluar Stasiun Tawang, mata saya disambut puluhan becak berjajar rapi. Di atasnya, bapak setengah baya duduk memangku tangan memandangi hilir mudik kendaraan bermotor dan ojek online yang berseliweran. Ada pula yang tidur dengan muka yang terlihat amat lelah.

Pemandangan yang sendu di sore hari itu, mengingatkan saya pada berita di Surabaya. Ya, berita seorang kakek, Muhammad Agus Hariono, yang ditemukan wafat di atas becak sepuhnya. Menurut berita yang beredar, ia ditelantarkan oleh keluarganya dan kemudian menyambung hidup dari peluh mengayuh becak berkaratnya.

Saya agak mempercepat langkah kaki mendekati mereka yang sedang menunggu sedikit rejeki dari para penumpang kereta. Sebagaimana yang telah saya perhitungkan, ketika saya mulai mendekati barisan becak itu, beberapa tukang becak yang semula melamun bangkit dari duduknya. Dengan sigap mereka menawarkan jasa, “Mas mau ke mana? Ayo naik becak,”.

Saya tersenyum dan mengatakan ingin ke Ngaliyan, sebuah kecamatan di Semarang, kira-kira punya jarak tempuh 30 menit dari Stasiun Tawang jika menggunakan sepeda motor. Mendengar jawaban saya, gurat wajah bapak-bapak itu mengkerut. Sebagian kembali ke becak masing-masing, sebagian menjemput orang-orang yang keluar dari stasiun.

Ada seorang mbah berkacamata yang masih berdiri di depan saya, ia menanyakan beberapa hal. Seperti dari mana hingga perlu apa ke Semarang. Sembari menjawab pertanyaan mbah itu, saya keluarkan sebungkus rokok dan menawarkan kepadanya. Ia mengambil beberapa batang, sebagian dihisap sendiri, sisanya dibagikan kepada teman-temannya yang merokok.

Kepala saya berkecamuk, banyak ingatan tentang profesi yang hampir punah ini dari buku-buku yang pernah saya baca. Hati saya terasa perih melihat orang setua ini masih hidup di jalan, melawan panasnya matahari dan perkembangan zaman yang menjadikan semua orang autis di depan gawai masing-masing.

Saya mengajak duduk mbah sepuh ini. Saya menawarinya kopi, tapi ia bilang sudah tidak ngopi. Akhirnya saya beranjak dari duduk dan memesan segelas kopi dan segelas teh untuk menemani obrolan gayeng kami.

Sembari menikmati kretek di tangan masing-masing, saya melontarkan pertanyaan kepada mbah. Dari pertanyaan-pertanyaan yang saya lontarkan, akhirnya saya tau seorang kakek bernama Suraji ini usianya 65, angka yang sudah amat matang dan seharusnya ia berada di rumah menikmati sisa hidupnya. Dari situ pula, saya baru tau kalau kakek ini berasal dari Jepara, sebuah kota di utara Kudus-Pati yang terkenal seni ukirnya.

Hati saya makin teriris. Orang sesepuh ini masih sendiri memperjuangkan hidupnya. Lantas saya bertanya di dalam hati, di mana anak-anaknya? Di mana mata pemerintah yang obral janji sana sini ketika musim pemilihan tiba?

Beberapa kali saya menahan mulut saya untuk tidak bertanya hal-hal yang berpotensi menyinggung hati Kakek Suraji, tapi akhirnya bobol juga. Saya amat penasaran dengan kondisi kakek ini, akhirnya saya bertanya. “Kenapa Mbah Suraji masih mbecak di umur setua ini?”

Ia menghisap kreteknya dalam-dalam, kemudian berkata, “Ya bagaimana, Mas, saya ini wong ora nduwe (nggak punya), kalau ga begini ya tidak bisa hidup dan menghidupi. Aku ini kalau diam malah sakit, jadi kalau mbecak kan gerak terus. Keringat keluar. Sehat!” Katanya mantap.

Saya tidak heran dengan jawaban seperti ini, karena mbah saya pun tidak pernah mau absen pergi ke sawah meski umurnya telah senja.

“Anak-anaknya Mbah ke mana?”

“Anak-anak saya sudah sibuk dengan keluarga masing-masing, Mas. Saya tidak apa-apa, asalkan mereka sehat terus.”

Tentu saja jawaban seperti ini semakin mengiris-iris hati saya. Menampar keras pipi saya. Ya, saya seorang anak berusia 25 tahun yang belum bisa memberikan kebahagiaan kepada kedua orangtua.

Saya tidak ingin obrolan kami berputar di kehidupan Kakek Suraji semata. Meski saya sudah tau, di tengah segala macam serba online, profesi becak tak lagi menjanjikan, saya tetap menanyakan hal yang sifatnya basa-basi, seperti dapat berapa peñumpang dalam sehari?

Mendengar pertanyaan saya, Mbah Suraji menunduk dan menggelengkan kepala. “Ojo meneh kok sehari, Mas. Saya di sini (tidak pulang-pulang) sudah 14 hari, baru dapat 1 penumpang.”

Menurut Mbah Suraji, dalam dua minggu biasanya dapat 100 ribu sudah bagus, tapi kali ini nasib baik sedang menjauh dari Mbah Suraji. “Saya pulang ke rumah kalau sudah bawa uang untuk belanja istri saya. Kalau tidak ada uang, ya saya tidak pulang. Makan seadanya. Lebih banyak minum air putihnya.”

Tidak hanya Mbah Suraji, saya pun merasa sangat sedih. Sedih karena tak bisa melakukan apapun, jangankan untuk menyulap becak Mbah Suraji menjadi bongkahan emas yang menarik perhatian orang, menjadi penumpang saja tak bisa.

“Dulu masih banyak orang yang naik becak. Orang-orang yang nyari oleh-oleh di sekitar sini biasanya naik becak dan banyak yang membayar lebih. Enak pokoknya. Sekarang, ya sampean tau sendiri,” Mbah Suraji menerawang masa kejayaannya, sementara saya menahan air mata agar tidak jatuh. Halah!

Saya ingin mengobrol lebih panjang lagi sebenarnya, tapi matahari semakin bergerak turuk dan adik perempuan saya sedang menunggu di Ngaliyan. Akhirnya saya minta undur diri. Terbersit dalam benak, saya ingin memberi uang kepada Mbah Suraji, tetapi niat itu pasti akan melukai hati Mbah Suraji. Akhirnya saya mengelurkan sebungkus rokok. “Ini rokok untuk Mbah Suraji, semoga bisa menjadi teman ketika menunggu penumpang,” kata saya sembari menyodorkan sebungkus rokok.

Mbah Suraji tersenyum. Saya mengucap salam, menyeberang jalan, mendekati driver ojek online yang sudah datang. Saya menengok ke belakang, Mbah Suraji sudah kembali mencari penumpang.

Semoga Gusti Alloh mengasihimu, Mbah! Amin

Ibil Ar Rambany
Semarang, 25 September 2018

Iklan

Satu pemikiran pada “Mbah Suraji

  1. Ping-balik: Bang Yus, Supir Taksi Bermata Merah | Ibil Ar Rambany

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.