Cantolkan Islam pada Kejernihan Hatimu, Bukan pada Kekuasaan

Para pembawa Islam pada abad pertengahan masuk ke Indonesia dengan konsep yang lengkap. Ada ajaran tauhid, ibadah, syariah, muamalah, ilmu fikih, ilmu dakwah, dan ilmu tasawuf, tak terkecuali jihad fi sabilillah. Semua itu dirangkai dalam peraturan yang serasi, tidak bertabrakan dengan satu dan lainnya.

Pembawa Islam di Indonesia ini mengajarkan Islam tidak melalui kekuasaan, tetapi melalui as tsaqofah (budaya), al iqtisod (ekonomi; kesejahteraan masyarakat), serta ilmu dan pemikiran. Sehingga Islam itu awet, tidak pernah goncang dengan siatuasi kekuasaan.

Inilah bedanya dengan Islam di Andalusia, yang masuk melalui proses perang. Ketika Islam berkuasa, Islam terasiar, tetapi saat tidak berkuasa Islam hilang. Inilah pelajaran penting, bahwa Islam harus dicantolkan pada kesejahteraan umat, kebudayaan dan ekonomi umat, jangan di pilkada atau di pilpres.

Di Indonesia, para pembawa Islam memiliki daya tarik yang sangat tinggi karena kesufiannya. Mereka tidak menginginkan apa-apa untuk dirinya, tetapi dirinyalah untuk umat dan Allah. Proses ini melalui proses tasawuf, bagaimana seseorang berjuang untuk perjuangan, bukan memperjuangkan dirinya sendiri.

“jahidu fi sabilillah bi amwalikum wa anfusikum”

Berjuanglah di jalan Allah dengan menggunakan hartamu dan dirimu. Nah yang jadi pertanyaan itu, di dalam diri itu ada apa saja? Ada pikiran, tekad, keberanian dan persatuan. Belakangan ini yang terjadi adalah sebaliknya, “wa jahidu fi sabilillah li amwalikum”, banyak berjuang untuk mencari harta, bukan mengorbankan harta.

Hari ini banyak orang Islam yang menguasai ilmu Islam. Tau bagaimana rukun dan syarat setiap ritus, tetapi tidak banyak yang dapat mengkonversi ilmu itu ke dalam akhlak keseharian.

Misalnya, untuk mengerti salat lima kali dalam sehari itu mudah, tapi untuk menjalankan ritus itu, apalagi mengambil hikmah filosofis untuk menjalani hidup dengan sesama, yang kemudian menjadi pertanyaan. Disinilah proses lain, kerelaan manusia kepada Allah terhadap syariat. Ini ditentukan oleh posisi hati manusia, bukan pikiran kita dalam memahami sesuatu.

Makanya orang-orang alim pada zaman dulu rata-rata sufi, ahli tasawuf. Kalau tasawuf itu mengikuti tarekat apa, ya bebas, asalkan muktabarah. Mereka sufi, sehingga dalam menyampaikan ini haram dan halal adalah sebuah upaya lillah. Menghukumi sesuatu tidak belandas pada nafsunya.

Misalnya lagi, meski telah ratusan ulama bathsul masail (membahas masalah), perdebatan mengenai hukum rokok memang tidak pernah ada habisnya. Ada yang saklek mengatakan rokok haram tanpa melihat hukum asalnya, ada pula yang mengatakan hukum rokok tergantung bagaimana kondisi sosial dan penghisapnya.

Pada suatau kesempatan, Almaghfurlah Kiai Hasyim Muzadi menerangkan hukum rokok dari sudut pandang yang berbeda. Baginya, persoalan fikih (hukum), setiap orang alim memiliki pendapat yang berbeda. Maka, diperlukan ilmu tasawuf untuk menengahinya.

Menetapkan hukum adalah persoalan fikih, tetapi kejernihan hati menentukan hukum itu bukan fikih, melainkan tasawuf. Misalkan sama-sama orang alim dalam ilmu fikih dengan hati yang tidak sama, jawabannya pun pasti akan berbeda. Terkadang hukum itu berubah bukan karena kepentingan Allah, tapi lebih kepada kepentingan manusia.

Almaghfurlah Kiai Hasyim menceritakan bagaimana para alim ketika bathsul masail tentang hukum rokok di Kediri. Berdasarkan pada ilmu fikih, forum bathsul masail menyepakati hukum rokok adalah makruh tahrim (makruh yang dekat dengan haram). Di tengah bathsul masail, salah satu peserta mengangkat tangan karena ia memiliki pabrik rokok Minna.

“Ini kalau rokok saya dimakruhkan, kantor PBNU tidak jadi-jadi, karena yang menyokong saya,” Kiai Hasyim menirukan pertanyaan peserta tersebut.

Mendengar pertanyaan tersebut, forum akhirnya berunding kembali. Hingga memunculkan kesimpulan, “rokok makruh tahrim, kecuali Minna,”. Jelas kelakar Kiai Hasyim Muzadi ini disambut gelak tawa para hadirin.

Kiai Hasyim menegaskan bahwa itu adalah sebuah kelakar, tetapi dapat dijadikan sebagai bahan renungan umat manusia. Bahwa hukum itu belum selesai sebelum keihklasan yang menyangga hukum itu dilaksanakan. Banyak sekali ahli hukum jadi makelar hukum, jualan hukum, bahkan sarjana hukum yang ternyata terkena hukuman. Inilah bukti bahwa ilmu tidak pernah bisa berdiri sendiri tanpa disiplin ilmu lainnya.

Proses posisi hati tidak dapat terjadi tanpa proses tasawuf sufiyah. Seorang sufi atau ahli tasawuf tidaklah orang-orang yang tidak memahami disiplin keilmuan lainnya. Yang terpenting ia dapat membereskan hatinya, tak peduli pekerjaannya pejabat, petani, pedagang atau lainnya.

Bukan berarti kasyaf itu berdiri sendiri dan menampik keilmuan yang lain. Liatlah Al Kindi, Al Farabi atau Ibnu Sina adalah para sufi yang memikirkan ilmu alam, aljabar dan lain sebagainya. Khalifah Al Mansour misalnya, ia adalah seorang raja yang sufi. Setelah ia bekerja, ia mematikan lampu, karena lampu yang membayar adalah negara. Kalau tidak bekerja, ia akan di rumah.

Dengan kesufian itulah, seseorang akan menjadi saleh pada bidang masing-masing. Maka jika kita adalah kretekus, menjadi sufilah dengan tidak ngudud dekat anak, ibu hamil, saat bekerndara dan ikut serta memikirkan nasib bangsa, meski hanya bisa tidak ikut share dan bentrok di dunia maya.

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.