Bang Yus, Supir Taksi Bermata Merah

Hujan rintik membasahi Bandara Sultan Hasanuddin Makassar ketika pesawat yang saya tumpangi mendarat. Dari balik jendela, jelas sekali terlihat rintik hujan semakin deras, hingga akhirnya hujan tumpah. Meski begitu, semerbak bau tanah Makassar tetap tercium ketika kaki saya pertama menapakkan kaki di kota pelaut ini.

Saya menggegaskan langkah kaki keluar bandara, bukan karena ketakutan hari semakin pekat, melainkan rasa rindu terhadap semerbak bau kretek yang sudah tak tertahankan. Replika Rumah Tongkongan, rumah adat Sulawesi Selatan, berdiri kokoh di depan pintu menjemput setiap orang yang keluar bandara, di dekat situlah saya melaksanakan ibadah hisab bersama ahli hisab lainnya.

Di sela-sela menikmati hisapan demi hisapan dan sesekali membaca beberapa pesan yang masuk gawai, saya mengamati hilir mudik penumpang pesawat dan kegigihan para penyedia jasa transportasi menjemput setiap penumpang yang melewati pintu keluar. Dengan logat yang khas dan sesekali menuturkan basa mangkasara, bahasa khas Makassar, driver-driver itu tanpa henti berharap ada penumpang yang menggunakan jasanya, meski lelah dan letih tak dapat disembunyikan lagi dari wajah mereka.

Hujan tak kunjung berhenti. Tapi kini tak sederas beberapa menit lalu. Kretek kedua saya bakar. Sekira baru 3 kali hisapan, seorang lelaki kurus mendekati saya.

“Mau kemana kah?” Tanyanya dengan logat khas Makassar.

“Aku mau ke Panakkukang, Bang,” jawabku singkat.

“Berangkat sekarang kah?”

“Nanti saja, Bang. Sebatang dulu kah,” tanpa sadar saya mengikuti notasi bicaranya.

“Yasudah kalau begitu,” Abang yang tak saya ketahui namanya ini mengeluarkan buku kecil dari dalam sakunya. Sembari tangannya memilah beberapa kupon dari dalam buku itu, ia berteriak memanggil temannya. “Yus, yus, ke sini kah!”

“Antarkan bapak ini ke Panakkukang!” Katanya kepada lelaki bertubuh besar yang ia panggil “yus” tadi. Matanya merah, agak berat. Sempat terbersit di kepala saya, apa dia habis menenggak minuman keras?

Lelaki itu memberikan semacam tiket kepada Yus. Kemudian mengalihkan pandangan kepada saya dan berkata, “Pak nanti bayarnya ke driver langsung ya.”

Foto bersama peserta Komunitas Bela Indonesia di Makassar, selepas saya mengisi pelatihan manajemen media sosial. Makassar

Tentu saja saya bertanya kepadanya, soal argo dan lain-lain. Karena sedari tadi belum ada kesepakatan apapun. Saya sadar betul sedang berdiri di provinsi orang. Di sini saya tidak tau medan, sekalipun waktu menunggu pesawat berangkat di Bandara Yogyakarta menyempatkan untuk memelajari karakter dan kebudayaan orang Makassar. Saya tetap perlu hati-hati. Semuanya harus disepakati di muka.

Sebenarnya, sebelum berangkat saya sudah diberi tau panitia soal argo dari bandara sampai tempat acara. “150.000 belum termasuk tol, Mas. Kalau pakai gocar 80.000”, begitu kata panitia. Tidak mungkin saya pesan gocar di bandara, selain umpet-umpetan, terlalu berisiko memancing keributan. Akhirnya saya diantar Bang Yus ke penginapan.

Dengan logat Makassarnya yang sangat unik, Bang Yus tak berhenti bicara. Bercerita soal orang-orang Makassar. Bercerita soal betapa beratnya menjalani hidup di tengah hiruk pikuk dunia yang terus berkembanh ini.

Bang Yus menjadi driver taksi sudah 11 tahun lamanya. Dan seminggu ini adalah hari paling apes menurutnya. Sehari paling banyak mengangkut 2 penumpang. “Hujan terus dari pagi. Penumpang sepi,” keluhnya.

Wajah Bang Yus tampak lelah sekali. Matanya merah. Agak ngeri-ngeri sedap sebenarnya. Ditambah, sepertinya kakinya hanya menginjak gas, lupa menginjak rem. Kencangnya taksi Bang Yus mengingatkan pesan Mbah Kakung, “kalau sedang naik kendaraan, jangan lupa banyak baca shalawat, ben selamet”. Saya pun lantas mengamalkan itu.

Sedari masuk taksi Bang Yus, saya merasakan ada sedikit keganjilan. Ya, lampu taksi ini tak menyala. Saya pun lantas mengingatkan Bang Yus, tapi kata Bang Yus memang lampunya sengaja tak dinyalakan. Ngirit bensin katanya. Walahdalah.

Tanpa lampu menyusuri tol dengan kecepatan 120 km/jam. Modal nyalip dan memberi sinyal kendaraan lain hanyalah doa dan klakson. Tak ada dim. Tentu saja saya gelisah. Kecelakaan di sini, selesailah saya. Tapi saya terus diam, mempercayakan nyawa saya kepada Bang Yus.

Melihat saya ndomblong saja, Bang Yus tersenyum masam. “Takut kah?” Tanyanya. “santai saja, saya sudah profesional. Di sini memang gayanya begini.” Saya hanya meringis menanggapinya.

Benar yang dikatakan Bang Yus. Ketika taksi yang kami tumpangi meliuk-liuk, saya melihat seorang pengendara avanza yang sembari menyetir sibuk menyeka kaca mobilnya dari dalam. Jendela mobilnya terbuka. Wiper mobilnya tak bergerak. Lampunya pun tak menyala. “Kendel tenan iki wong Makassar,” batin saya.

Deg-degan saya hilang ketika taksi keluar tol dan dijemput kemacetan Makassar. Setidaknya kali ini Bang Yus akan lebih banyak menginjak rem daripada gasnya. Di tengah kemacetan panjang itu, saya meminta Bang Yus untuk menepi ke warung Coto Makassar, makanan khas daerah ini yang katanya sangat lezat. Di sana, saya bertanya banyak hal kepada Bang Yus, khususnya soal kebudayaan dan suka duka menjalani hidup sebagai manusia.

Makassar, 1 Desember 2018-23.30 WITA

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.