Obrolan “Agak Serius” soal Bela Tauhid dengan Driver Ojek Online

Pekoknya (ngeyel) manusia mungkin disebabkan oleh dua hal, yakni karena kesusahan mengakses sumber lain dan menutup diri dari sumber-sumber yang dianggap tidak menguntungkan, baik secara pribadi maupun komunalnya.

Kegaduhan di dunia maya mungkin disebabkan oleh satu hal, masyarakat yang gila mengkonsumsi teks tanpa dibarengi kecerdasan atau mungkin menutup mata terhadap konteks terjadinya sebuah teks tersebut.

****
“Malam tadi saya terlibat perbincangan “agak serius” dengan driver ojek online, sebut saja Pak Tasimin namanya, ketika kami mengarungi perjalanan dari Ciputat hingga Rumah Kretek Indonesia, Cinere, Depok”

Kira-kira pukul 01.00 dini hari Pak Tasimin menjemput saya di Angkringan Mbah Brengos. Setelah driver setengah sepuh asli Riau tersebut menarik gasnya, seperti biasa, saya membuka obrolan terlebih dahulu dengan pertanyaan-pertanyaan standar, mulai dari tinggal di mana, asli mana, anaknya berapa, hingga memancing pendapatnya soal ojek online dulu, sekarang dan nanti.�
“Manajemen gojek sedang berantakan, Bang. Potongannya besar. Kami sebagai mitra didholimi,” sayup-sayup saya mendengar Pak Tasimin menggerutu.

Pengakuan seperti itu sering saya dengar langsung dari para driver ojek online. Keluhannya sama, ojek online sekarang tidak seramah dulu. Peraturan semakin njlimet, tapi pendapatan segitu-gitu saja. Ya memang, soal pendapatan tergantung seberapa rajin dan kerasnya driver ojek online menerima orderan yang bersarang di aplikasinya. Tetapi, sebagaimana manusia pada umumnya, mengeluh dan menggerutu adalah obat sesak dada sekaligus lemah-lemahnya perlawanan yang dapat dilakukan.

Kami hening sejenak. Beberapa saat kemudian Pak Tasimin bertanya kepada saya, “Mohon maaf, Bang. Abang, ifhdsuifhdusifds atau tidak?”

“Apa, Pak,” kata saya sembari mendekatkan telinga.

Pak tasimin mengurangi gasnya. Motor yang kami tunggangi melaju agak pelan. “Maaf sebelumnya, Abang muslim atau bukan?” katanya setengah berteriak.

“Owalah. Iya, alhamdulillah kebetulan saya muslim. Saya muslim. Saya NU,” kata saya sambil senyum-senyum penuh pertanyaan, kenapa tiba-tiba Pak Tasimin bertanya soal agama segala.

“Wah berarti besok tidak ikut Aksi Bela Tauhid dong, Bang?”

Jelas saya langsung mengerutkan dahi mendengar pertanyaan yang sebelumnya tak pernah terpikir akan ada pertanyaan semacam ini di tengah malam yang dingin, apalagi dalam perjalanan yang mungkin tidak lebih 30 menit.

Terus terang saya malas membahas perkara yang sebenarnya sudah tak perlu dibahas apalagi diributkan, tetapi sebagai bentuk penghormatan terhadap sesama manusia saya akan menanggapi segala pertanyaan orang yang telah berjasa besar karena mau mengantarkan saya menuju peraduan.

“Ikut to, Pak. Saya sudah bela tauhid setelah maghrib tadi. Lewat Tahlilan. Yasinan.”

Bisa saya pastikan, jawaban ini tidak akan memuaskan Pak Tasimin. Hal ini wajar, selain bukan lelaki pemuas, saya tidak menjawab seperti yang diinginkan Pak Tasimin. Benar saja, Pak Tasimin langsung menegaskan, bahwa yang ia maksud “Aksi Bela Tauhid” itu aksi umat Islam untuk menjawab pembakaran bendera oleh Banser.

Saya menyalakan aplikasi rekaman di hp dan agak hati-hati setelah penegasan itu. Salah jawab, bisa jadi saya diturunkan di tengah jalan. Padahal perjalanan masih sekitar 4 kilo meter lagi.

Belum saya menanggapi, Pak Tasimin menambahi pertanyaannya. “Kalo menurut Abang nih, itu bendera umat Islam atau bendera HTI?

Modyarrrr. Tengah malam masih saja diajak bathsul masail. Sepontan saya menjawab yang dibakar Banser adalah bendera yang sering digunakan HTI dalam aksi-aksi massa mereka.

“Lho tapi itu kan ada kalimat tuhidnya, Bang? Apa tidak dosa kalau melecehkan simbol Islam seperti itu?”

Dada saya agak bergemuruh sebenarnya. Ingin rasanya tangan saya mengepal kemudian berteriak Allohuakbar. Tapi apa daya, angin malam membuat dingin kepala saya. Jadi ya ga jadi. Hiya hiya hiya.

“Mungkin saja dosa, mungkin saja tidak, Pak.”

“Lho harus itu tetap dosa, Bang! Tidak bisa ditawar lagi kalo soal ini,” Pak Tasimin makin ngegas.
“Maksudnya begini, Pak. Mungkin tidak dosa, karena Banser menganggap bendera yang dibakar adalah bendera HTI, organisasi yang sudah dilarang di Indonesia dan banyak ditolak oleh negara-negara Islam lainnya. Mungkin saja dosa, karena peristiwa itu membuat gaduh banyak orang. Tapi, ya saya tidak tau dosa atau tidak.”

“Nah itu lho, Bang, yang saya maksud. HTI sudah bubar. Bendera itu adalah panji umat Islam. Harusnya Banser tau kalo itu bendera umat Islam yang tidak boleh dinistakan.”

“Asu. Kalian kemarin aksi juga nyeret-nyeret bendera itu. Bahkan dijadikan alas duduk dan digeletakkan disembarang tempat. Apa itu tidak penghinaan?” Batin saya yang tidak mungkin akan saya ucapkan secara terang-terangan.

“Begini, Pak. Soal pembakaran itu, sebenarnya sudah tidak perlu diributkan. Pelaku sudah minta maaf, sudah diadili, lalu apalagi masalahnya? Saya sendiri belum tau apa motifnya keramain ini, meski sebenarnya terlihat gamblang.”

Tanpa sadar, ternyata sejengkal lagi kami sudah sampai di Rumah Kretek Indonesia. Sesampainya di depan gerbang, Pak Tasimin mematikan motornya. Sepertinya ia masih ingin bathsul masail soal pembakaran bendera.

Saya mempersilahkan ia masuk, untuk berdiskusi sambil ngopi. Tapi beliau menolak. “Sudah di sini saja, Bang. Saya cuma ingin memperjelas beberapa hal ke sampean. Ayo dilanjutkan soal yang tadi. Maksudnya di balik pembakaran ini ada apa?”

Mau tak mau, saya harus meladeni Pak Tasimin yang sepertinya makin penasaran untuk menjadikan saya pengamin bahwa bendera yang dibakar Banser adalah bukan bendera HTI.

“Begini lho, Pak. Yang saya maksud ada apa di balik ini, adalah aksi bela tauhid itu. Kok masih saja keras demonstrasinya dan trending media sosialnya, padahal masalahnya sebenarnya sudah tuntas. Kalo motifnya Banser membakar bendera itu juga sudah jelas, karena Banser dari kakek nenek kita memang menjadi benteng NKRI dari segala ajaran yang bisa mengancam keutuhan bangsa ini. Nah, kalo orang-orang yang bela tuhid apa motifnya?”

“Ya kan sudah jelas, membela tauhid. Gimana sih, Bang?”

Saya menahan diri, jangan sampai mulut saya berteriak “ ayo wis gelutan wae. Kesuwen.”
“Pak mohon maaf. Saya dan bapak punya pengalaman batin yang berbeda. Punya ilmu yang berbeda. Membaca sesuatu yang mungkin berbeda. Setiap orang, ketika menangkap satu fenomena, memiliki tafsir yang berbeda-beda. Makanya itu, aliran Islam pun juga berbeda-beda. Mungkin yang saya katakan tadi salah, bisa jadi juga benar. Begitupun yang bapak yakini, bisa jadi salah, bisa jadi benar. Yang mutlak salah adalah memaksakan pendapat kita diamini oleh lawan bicara kita.”

“Iya, aku ngerti, Bang. Jangan ke mana-mana dulu.”

Saya nyengir. Saya sadar, kalau ini cuma dihabiskan dengan dasar agama yang saya yakini dan Pak Tasimin yakin, tidak akan selesai sampai nanti saya menikah, punya anak dan kemudian siap dikuburkan.

“Bapak, masyarakat kita hari ini cenderung mengabdi kepada simbol. Contohlah ketika bermain media sosial. Kalo ada judul berita yang menguntungkan pendapat kita, kita akan share begitu saja, tanpa membaca dan menelaah lebih dalam lagi soal isinya, ideologi media, apalagi sampai kepentingannya.”

Pak Tasimin memandang saya lekat-lekat.

“Misalnya begini deh, Pak. Bapak sedang kencang naik motor, tiba-tiba ada orang nyeberang tanpa nengok kanan kiri. Bapak sudah ngerem sekuat tenaga, tapi tetap saja menabrak hingga jatuh terguling-guling. Yang bapak tabrak terkapar tak sadarkan diri. Nah pertanyaannya, kira-kira kalo ada orang berlarian ke situ yang akan ditolong siapa? Yang akan dipukuli siapa?”

“Ya bisanya yang naik kendaraan yang dipukuli dan disalahkan.”

“Nah!”

“Tapi kan sebenarnya yang salah orang yang nyeberang?”

“Nah tepat. Siapa yang dapat berpikir orang yang salah adalah orang nyeberang? Mungkin bapak. Mungkin juga orang yang dapat bersabar dan mencari tahu sebab terjadi kecelakaan itu. Dalam konteks ini, bapak mungkin sepakat dengan saya. Tapi kenapa pada konteks pembakaran bendera, bapak hanya mengamini apa yang terlihat?”

Pak Tasimin berpikir sejenak. Ia mengenakan helm, kemudian pamit. Sementara saya masih berdiri di depan gerbang sambil melihat punggung Pak Tasimin hilang di lepas tanjakan.

Cinere, 2 November 2018 || 03.00 WIB

Iklan

8 pemikiran pada “Obrolan “Agak Serius” soal Bela Tauhid dengan Driver Ojek Online

  1. Artikel yg menarik. Soal motif sampai saat ini saya memang belum bisa memastikan ada motif apa dibalik itu semua.
    Mulai dari pembakaran sampai muncul aksi bela tauhid.

    Yang saya maksudkan adalah pertama pelaku pembakaran bendera berlafadz tauhid.
    Yang kedua munculnya aksi tersebut.

    Menurut analisa saya, pelaku pembakaran bendera berlafadz tauhid itu sama sekali tidak berniat menghinakan lafadz tauhidnya. Tetapi karena menurut pengetahuan mereka bendera tersebut merupakan bendera yg sering di bawa oleh HTI, jadi mereka meyakini bahwa bendera tersebut adalah bendera hti, terlepas benar atau tidak bendera itu bendera HTI.

    Kedua. kenapa banyak orang beramai ramai menyetujui bahwa pembakaran bendera tersebut merupakan penistaan terhadap lafad tauhid? Karena bendera tersebut terdapat lafadz tauhid dan pembakarannya diiringi menyanyikan yel yel dr Kelompok tertentu. Terlepas bendera itu diklaim sebagai bendera HTI atau bukan.

    Saya kira disinilah kenapa banyak orang yg tersulut emosinya dan menganggap itu sebagai sebuah penghinaan. Kenapa menganggap itu sebagai penghinaan? Ternyata banyak juga yg tidak tau bahwa bendera itu sering diidentikkan dengan HTI, sehingga ketika ada pembakaran bendera berlafadz tauhid langsung menganggap itu murni pembakaran bendera tauhid yg kemudian diidentikkan sebagai sebuah penghinaan.

    Sementara pendapat pribadi saya dr yg saya tau membakar tulisan berlafadz Allah dan ayat-ayat Qur’an tidak masalah selama dilakukan dengan tujuan memuliakan dan dilakukan dengan cara yg baik.

    Namun dengan munculnya aksi bela tauhid yg diisukan ada muatan politik saya tidak berani berkomentar. Bisa jadi iya bisa jadi tidak. Mengingat saat ini masa masa pertarungan politik apa saja bisa dikaitkan dengan politik.

    Wallahu a’lam bishowab..

    Disukai oleh 2 orang

  2. Memang menyedihkan. Rakyat biasa yang naif dalam politik dimanfaatkan kecintaannya pada agama untuk syahwat kekuasaan sebagian orang/kelompok. Semoga Indonesia diberikan karunia damai dan sejahtera bangsanya, tidak tertular yang di Timur Tengah 😦

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan ke ibenimages Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.