Rindu

Akhir 2012, saya bersama dua rekan, Edi dan Ulin, sowan kembali ke ndalem Kiai Basyir Kudus, guru kami dalam menjalankan laku puasa dalail. Kedatangan kali itu untuk meminta doa pungkasan puasa dalail Quran yang sudah genap setahun, selanjutnya meminta ijazah dalilul khairat untuk laku puasa sembari mendawamkan shalawat kami 4 tahun mendatang.

Hangat sekali dalam ingatan saya, saat Kiai Basyir Kudus menasehati kami, yang terpenting dari laku hidup adalah mempelajari dan mengamalkan ikhlas dan sabar, bukan memelajari wirid kebal bacok atau menembus alam yang tidak kasat indera. Di akhir tatap muka itu, Simbah Kiai Basyir menuntun kami mengeja bab per bab dalam kitab dalialul khairat, yang kemudian untuk kami istiqomahkan setiap hari sambil puasa setiap hari, kecuali 5 hari yang diharamkan berpuasa.

Isi dari kitab dalilul khairat adalah sekumpulan shalawat dan hizib, yang tentu saja mampu mengubah hidup 180 derajad pengamalnya. Yang semula mudah emosi dan meledak-ledak, menjadi anteng, jejeg dan tenang menghadapi segala hal. Tidak gampang mudah dan ikhlas mendapat perlakuan apapun (mungkin ini juga disebabkan karena menjaga lapar).

Di Ibu Kota, dengan suguhan dunia yang tak pernah sepi, istiqomah menganalkan ritus shalawat ini terasa amat berat. Jangankan untuk istiqomah, shalat subuh saja kadang amblas terlewatkan.

Akhirnya, setelah lama pensiun duduk lama di atas sajadah, sembari konsentrasi merapal syahdunya lafal shalawat, hati saya makin bertambah gelisah. Semakin hari bertambah, semakin bertambah juga kegelisahan. Sesekali saya mendengarkan shalawat di yutub dengan iringan musik, dari yang alus, koplo sampai rock. Nahasnya, lantunan itu tak mengurangi kadar kegelisahan saya.

Tapi melihat video-video Mbah Moen begitu gembira melantunkan syair-syair pujian. Hati saya rasne trecep-trecep. Mbrebes mili. Kangen kembali pada masa punya banyak waktu luang untuk berdiam.

Semoga kita menemukan titik kegelisan, yang menuntun kepada segala hal yang baik dan bermanfaat. Menemukan kegelisan, untuk kembali rindu kepada segala kebaikan. Amin

Jogja, 28 Nov 2018

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.