Sebuah Pesan dari Mamak

Sebagai seorang anak yang sejak kecil menjalani hidup jauh dari dekapan orangtua, saya selalu berpikir ‘apa yang bisa saya berikan untuk kebahagian bapak dan mamak’. Uangkah, sekolah yang tinggi, bakti, akhlak yang baik atau apa?’

Saya tak pernah bertanya langsung apa yang diinginkan bapak dan mamak, karena jawabannya sudah pasti menginginkan saya menjadi seseorang yang berbudi luhur, berbakti, dan pengerten kepada semua orang. Tidak mungkin bapak dan mamak akan berkata kepada saya jika membutuhkan uang untuk tambahan modal menanam tembakau, misalnya, sekalipun memang mereka membutuhkan itu.

Saya telah gagal dalam beberapa hal, dan beberapa kali juga mengecewakan bapak dan mamak. Sehingga saya terus berpikir apa yang dapat saya lakukan dan berikan untuk keduanya. Ketika ada rejeki lebih misalnya, seringkali saya menanyakan kepada mereka, “di rumah ada uang tidak?”, tentu dengan suara lantang bapak akan bilang “Ada. Kalau kamu punya uang, ditabung saja. Tidak perlu memikirkan keuangan bapak dan mamak”.

Beranjak dari situ saya mengambil kesimpulan dan bertekad memberangkatkan haji keduanya, apapun risikonya, apapun tantangannya dan kapanpun berangkatnya. Setidaknya saya perlu 60 juta untuk mendaftarkan haji bapak dan mamak, maka konsekuensinya saya menaikan etos kerja dan memasukkan hasilnya ke dalam tabungan yang tak boleh diotak-atik, meski saya dalam kondisi yang amat membutuhkan uang. Kalau ada printilan-printilan pekerjaan di luar kantor yang tidak mengganggu tanggungjawab, saya akan menerima.

Bersama teman, saya juga memberanikan diri membuka usaha kecil-kecilan berupa warung makan, dengan maksud selain membuka lapangan pekerjaan juga menjadi usaha untuk membantu cita-cita memberangkatkan haji bapak dan mamak. Waktu berjalan, usaha tak mau ikut jalan. Stagnan. Hanya menghasilakan kepusingan demi kepusingan.

Alhamdulillah, selepas panen raya tembakau di desa, mbak sepupu saya mengabari kalau panen kali itu bagus. Ia juga mengabarkan kalai Pak dhe dan pak lek bersama istri masing-masing sudah mendaftar haji. Jelas saya kepikiran bukan main. Kenapa bapak dan mamak tidak ikut mendaftar?

Syukurlah Mbak Sepupu memberi bocoran. “Uangnya katanya buat nikahmu nanti”. Yassalam. Mbrebes mili mata saya. Sedih sekali rasanya. Pikiran saya berkecamuk. Merasa bersalah.

Saya meminta Mbak Sepepu untuk bilang kepada Pak Dhe dan diteruskan kepada Mbah Kakung, supaya menggunakan uang yang ditabung untuk biaya nikah saya dialihkan untuk berhaji. Alhamdulillah bapak dan mamak kini sudah terdaftar sebagai calon haji, meski berangkatnya 20 tahun lagi.

Dua minggu lalu saya di kampung halaman, membantu mengurus segala kelengkapan administratif yang dibutuhkan. Setelah selesai, saya pamit berangkat ke Jogja untuk memenuhi tanggungjawab. Saya mencium tangan mamak sembari menahan air mata menetes. Dengan suara lirih Mamak berpesan, “jangan lupa salatnya”. Itu saja.

Sepanjang jalan hingga saya menulis ini, pesan mamak masih terngiang. “Jangan lupa salatnya”, sebuah pesan sederhana yang belum bisa saya lakukan. Subuh masih lobang-lobang dan lupa salat ketika tengah dalam perjalanan. Maafken aing, Mak.

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.