Wak Kaji Sandiaga Uno Diciptakan Gusti Alloh untuk Mencerdaskan Kita Semua

Semalam tadi, banyak kawan yang wasap saya menanyakan soal gaya wudu Santri Post-Islamisme, Wak Kaji Sandiaga Uno, yang lagi viral di jagad media sosial. Lengkap dengan video Wak Kaji Sandiaga ngobok-ngobok air gayung, beberapa dari mereka menanyakan ‘madzhab mana yang mengajarkan wudu seperti itu?”

Saya tak menjawab, karena selain bukan ahli fikih apalagi perbandingan madzhab, bukan kapabilitas saya untuk menjawab pertanyaan yang seserius itu. Kecuali kalo pertanyaannya, “apa motif Wak Kaji Sandiaga ngobok-ngobok gayung, padahal di depannya ada air sekulah?” kalo pertanyaannya begini, baru bisa dijawab kanti guyon dan cekakakan.

Terkait Wak Kaji Sandi yang obok-obok gayung itu, Gus Nadirsyah sudah mewanti-wanti lewat dhawuhnya di twitter, bahwa persoalan wudu Wak Kaji Sandiaga adalah persoalan khilafiyah. Tidak perlu diheboh-hebohkan. Beliau juga menegaskan, air musta’mal (bekas wudu) tidak lagi suci mensucikan menurut pendapat yang utama dalam madzhab Syafi’i dan Hanafi, sedangkan Maliki dan satu riwayat dari Imam Ahmad membolehkan hal itu.

Bisa jadi Wak Kaji Sandiaga sedang mempraktikkan tata cara wudu ala Madzhab Maliki. Soal Wak Kaji salatnya pakai madzhab apa, biar ndak talfiq, ya ndak usah dibahas dulu. Sudahlah, sudah mau wudu dan ngimami salat sudah lebih baik, ketimbang bedes-bedes kayak dirimu ini yang mau wudu dan salat khuuuusyuk pas lagi sowan calon mertua.

Sebenarnya, saya tidak tertarik dengan ritus keagamaan para capres dan cawapres dan keseriusan cebong dan kampret mencitrakan mana yang lebih relijius dan nyantri di antara 2 pasangan ini. Alih-alih pemimpin seperti apa yang dibutuhkan negara ini melalui visi misi dan kerja nyata, ring pilpres ini malah menjadi ajang bathsul masail ritus keagamaan saja, seperti yang dulu gampang dijumpai di langgar-langgar (dan sekarang susah ditemui). Bukan soal visi, misi dan analisa tajam untuk bangsa dan negara.

Persoalannya, narasi yang dibangun hanya soal siapa yang lebih Islam, maka dia yang berhak glimpang glimpung di istana kepresidenan. Hambuh, aku ya Islam, tapi ya ndak gitu-gitu juga je. Nanti dapet presiden yang ngislami, tapi cuma bisa wiridan dan tidak bisa bekerja membangun negeri, ya bingung, ya demo berjilid-jilid.

Terlepas dari hiburan dan kelucuan ini, ada hal penting yang perlu saya ‘getok tularkan’ kepada sedulur semua. Ya, soal Wak Kaji Sandiaga Uno yang sengaja ditugaskan Gusti Alloh untuk mencerdaskan dan mengingatkan kita semua soal hal-hal yang baik.

Pertama, soal Wak Kaji Sandiaga melangkahi makam Syaikhona Bisri Syansuri. Kita boleh berkhusnudzon bahwa Wak Kaji Sandiaga belum tau adab berziarah kubur, makanya dia agak ugal-ugalan ketika berada di maqbarah. Saya yaqin, setelah kejadian itu dan setelah mendapat beragam reaksi dari netijen, Wak Kaji Sandiaga bakal tidak ugal-ugalan lagi saat berziarah.

Positifnya adalah, gara-gara ugal-ugalannya Wak Kaji Sandiaga Uno, adab sopan santun dalam Islam tersiarkan. Tidak hanya kepada muslimin, muslimat, monaslimin, monaslimat, tetapi juga kepada suadara-saaudara sebangsa se-Tanah Air yang memeluk agama lain. Bahwa apa yang dilakukan Wak Kaji Sandi tidak baik. Bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin, orang yang sudah wafat saja dihormati, di makam juga harus beradap, apalagi ketika sedang berhadapan dengan yang masih hidup. Kalau ada satu dua yang masih suka ugal-ugalan, percayalah itu bukan ajaran Islam, itu adalah ajaran nafsu yang tak pernah diajak ikut belajar.

Kedua, soal wudu Wak Kaji Sandiaga Uno yang jarang dipraktikkan oleh kebanyakan muslimin, muslimat, monaslimin dan monaslimat Indonesia. Gara-gara ketidaklaziman itu, akhirnya kita digerakkan untuk membuka kembali kitab-kitab kuning. Membuka bab wudu, metentengi dan jika gaya wudu Wak Kaji Sandiaga Uno ini tidak seperti apa yang tertera dalam kitab yang kita baca, waktunyalah menggoreng dan menghasut netijen lain untuk ikut meriuhkan kemriyuknya suasana.

Padahal, ahli fikih sendiri mewajibkan untuk mengikuti salah satu empat madzhab. Mungkin saja Wak Kaji Sandiaga sedang mempraktekkan tata cara wudlu salah satu madzhab. Kita yang tau satu madzhab, kemudian menggiring itu menjadi sebuah kesalahan besar, tanpa ingat masih ada 3 madzhab lainnya. Jangan-jangan kita yang sok pandai ini terlalu jumawa lantaran merasa paling mengerti ajaran Islam, menjadikan pikiran kita tertutup dan lupa bahwa samudera keilmuan ini sangat luas.

Begitulah Gusti Alloh menyadarkan kita semua lewat Wak Kaji Sandiaga Uno. Semoga di waktu dekat, Wak Kaji Sandiaga Uno kembali melalukan hal-hal yang tidak lazim tapi dapat menjaga tradisi literasi dan keilmuan santri serta masyarakat Indonesia. Ndak lazim ndak apa-apa, asal ndak ngawur dan apal Pancasila.

Bisalah dicoba dulu tutorial mandi junub yang baik dan benar~~~

Satu pemikiran pada “Wak Kaji Sandiaga Uno Diciptakan Gusti Alloh untuk Mencerdaskan Kita Semua

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.