Kenapa Hati Saya Tidak Bergetar Tatkala Mendengar Ceramah Ustadz-ustadzah di TV?

“Kidung-kidung, syair-syair, atau puja pujian yang sering dilantunkan mbah-mbah dengan suara parau di musala dan masjid ketika manjing waktu salat, diciptakan oleh para kekasih Allah dengan pemahaman keilmuan yang sangat mendalam.”

Kata sesepuh dulu, “ambillah perkara baru yang baik, tapi jangan melupakan perkara lama yang juga baik”. Tetapi perkembangan zaman yang semakin menjadikan manusia terus kesepian di tengah gemebyarnya dunia ini, nyatanya membuat kebanyakan kita lupa melaksanakan dhawuh tersebut.

Kebudayaan bangsa yang sejatinya bermartabat dan syarat keilmuan semakin ditinggalkan, dianggap kuno. Muda-mudi penerus lebih memilih hidup berlandaskan gengsi dengan mengadopsi kebudayaan-kebudayaan yang tentu saja tidak ngendonesiani, daripada tekun memelajari kearifan budaya nenek moyang sendiri.

Saya tidak ingin membahas persoalan, kenapa saya lebih gandrung drama-drama Korea produksi tivi MBS, TV N, atau lain sebagainya, ketimbang roman-roman ftv yang sudah ketebak endingnya meski baru membaca judulnya, sebagai salah satu contoh ketidakcintaan saya terhadap produksi film-film roman dalam negeri. Tetapi lebih kepada orang-orang sekarang yang kemlinthi karena baru hafal satu dalil, atau setidak-tidaknya baru bisa mengeja as shalatu khairum minannaum dengan fuassseh, untuk menggoblok-goblokkan atau “menjustifikasi bukan calon menantu idaman” kepada orang kebluk yang tak bisa bangun mendengar para muadzin melantunkan panggilan salat subuh.

Awalnya hanyalah sebuah hasil dari ngelamun tatkala senja menyalak, soal kenapa hati saya tidak pernah merasa kreyes-krenyes ketika mendengarkan ayat-ayat suci Alquran dilantunkan oleh ustad ustadzah kekinian yang progresif berdakwah, serta nasehat-nasehatnya tidak dapat menggerakkan hati hanya mengamalkan kebaikan-kebaikan. Padahal setiap ucapan para ustad dan ustadzah yang progresif berdakwah itu selalu dilandasi dalil, entah Alquran ataupun sunnah.

Bisa jadi ini karena hati saya yang terlanjur keras lantaran banyaknya dosa-dosa yang saya perbuat.

Sebaliknya, ketika mendengarkan ulama-ulama yang tidak kebanyakan dalil berbahasa Arab, hati saya rasaya kok krenyes-krenyes, dada jadi lapang dan secara tidak sadar menggerakkan batin untuk mengamalkan ajaran-ajaran cinta kasih agama.

Beberapa kali saya mengamati masyarakat desa yang selalu membawa segala persoalan kepada kiai-kiai kampung. Tak peduli sakitnya persoalannya apa. Entah sakit yang sifatnya medis atau sakit yang tak dapat dideteksi medis. Anehnya lagi, hanya dengan umak-umik merapal doa dan meniup bagian sakitnya, penyakit semuh, persoalan pun sirna.

Jelas kalau dibandingkan ustad ustadzah masa kini, kefasihan pelafalan ayat-ayat Alquran kiai kampung antara langit dan sumur bor! Kalah jauh. Alamin jadi ngalamin. Fatiha jadi fatekah. Di sinilah mungkin letaknya. Keikhlasan. Mulut berucap dan hatinya ikhlas sumeleh dan terpaut kepada Sang Hyang Kuasa.

Era sekarang adalah era ghiroh beragama Islam tumbuh subur di sanubari masyarakat Indonesia. Gerakan-gerakan hijrah hingga gerakan nikah muda semakin kuat gaungnya. Tentu saja itu tidak menjadi soal. Yang menjadi masalah adalah sikap merasa paling benar sendiri dan mudah menyesatkan lian.

Kebudayaan berpikir dan mengamini apapun yang dilafalkan dengan bahasa Arab adalah benar semakin lestari, meskipun kontennya menyakiti hati orang lain dan perpotensi memorakporandakan tatanan hidup berbangsa serta bernegara. Sementara, sesuatu yang disampaikan dengan adat kebudayaan masyarakat Indonesia yang bergam itu dibilang bid’ah, kafir mughaladah, tidak ada tuntunannya, sekalipun yang disampaikan adalah kebaikan dan mempererat kerukunan.

Padahal, adat budaya yang diramu para ulama terdahulu syarat dengan nilai-nilai agama. Ilmu agama diterjemahkan ke dalam adat kebudayaan masyarakat. Hal semacam ini adalah metodologi dakwah para ulama yang memahami betul ajaran agama secara mendalam dan memilik ilmu sosial tingkat tinggi, sehingga mampu membaca, cara apa dakwah seperti apa dapat menuntun umat menuju lebih baik.

Coba tengok kidung-kidung ciptaan para Sunan. Kidung Wahyu Kolosebo karangan Kanjeng Sunan Kalijogo atau Syi’ir Tanpo Waton-nya Gus Dur yang sering dilantunkan biduan-biduan dangdut pantura, misalnya. Tentu saja anak-anak sekarang menganggap, lirik itu hanya sebatas karya sastra atau sebuah lagu, tanpa pernah peduli lagu-lagu itu hasil olah penyederhaan ilmu agama Islam yang sulit dicerna jika disampaikan secara leterlek.

Terus terang, saya pribadi lebih dapat meresapi kidung-kidung, syair-syair, puja pujian mbah-mbah yang tekun nyapu masjid dan musala. Karena dari syair-syair itu merangsang otak saya untuk mengingat isi kitab-kitab klasik yang diajarkan di pesantren dulu.

Bagi saya sih sederhana, mau disampaikan dengan gaya apapun sebuah ilmu itu, tidak jadi soal, yang penting mrasuk ing badan, pikiran dan tindak tanduk keseharian. Seperti Kidung Wahyu Kolosebo yang dinyanyikan Mbak Eny Sagita, Dek Niken dan Dek Irene Ghea dari New Pallapa. Gawe ayem lan ati krenyes-krenyes.

Jadi, kawula harus lebih mengerti, sedang berhadapan dengan siapa saat Anda sedang berdakwah. Kalau mendakwahi di depan orang-orang desa seperti saya yo goeman ababmu dan lafal Arabmu. Wong model kayak saya ini lebih mudah memahami ajaran agama yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa dan adat kebudayaan Jawa.

Ya, kan inti dakwah itu menyampaikan sesuatu, lha kalau sudah menyampaikan tapi lawan bicara ora mudeng, kan ya goeman. Jadilah manusia kekinian tanpa menistakan kebudayaan nenek moyang. Maka niscaya kau akan semakin keren di depan orangtua calon pendamping hidup idaman.

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.