Catatan Malam Takbir

Semua orang punya ingatan masa kecilnya, dan tak salah jika ingatan itu terkadang dijadikan sebagai bahan refleksi muhasabah era kini dan nanti.

Setiap kali malam takbir tiba, saya selalu teringat keriuhan masjid. Saya dan teman-teman sebaya sibuk membuat kentongan jauh-jauh hari untuk ditabuh ketika malam takbir. Tak jarang, petasan yang telah ditabung selama bulan puasa, tumplek blek dinyalakan di tengah gema takbir dan uforia anak-anak bertakbir sembari diiringi musik khas hasil tabuhan bedug dan kentongan.

Saking asyiknya “klotekan” hingga kelelahan dan tangan “kapalen”, kami biasanya ngampar di teras masjid, tertidur pulas hingga azan subuh dikumandangkan.

Sekiranya 5 tahun belakangan, ketika mudik lebaran ke kampung halaman, pemandangan itu sudah tiada. Malam takbir, masjid tak seramai dulu. Bahkan bisa dikatakan sepi. Tak ada anak-anak yang klotekan hingga kapalen, berlarian menyulut petasan di halaman masjid apalagi sampai kelelahan dan ngampar tertidur di teras masjid.

Hari berganti, tahun terus bertambah. Zaman dan kebudayaan pun sedikit demi sedikit berganti. Kreativitas semakin terasah. Sehari atau dua hari sebelum malam takbir tiba, muda-mudi sibuk menyulap truk-truk menjadi panggung, guna persiapan takbir keliling. Uforia menyambut Hari Kemenangan.

Tidak ada yang bisa menghentikan perkembangan. Perkembangan adalah keniscayaan. Tiada yang salah dari sebuah perkembangan. Berkembang itu harus. Modifikasi itu juga harus. Asalkan tidak melupakan hukum “asal” sebuah perkembangan itu. Kita ingat Sunan Kalijaga memodifikasi dakwah dengan pewayangan. Saya sadar betul, uforia dan spirit keagamaan teman-teman kampung saya sedang menuju ke situ. Membalut ajaran baik dengan kebudayaan dan seni yang baik.

Saya selalu optimis, kegiatan itu kelak akan digeser dari masjid dan berkahir di masjid. Masjid harus tetap hidup. Jangan sampai kelak kita menyesali jika masjid diambil alih oleh orang-orang yang anti terhadap tradisi dan kebudayaan leluhur.

Saya tentu tidak lebih baik dari teman-teman di kampung yang memiliki spirit lebih untuk menghidupkan kebudayaan dan kesenian. Karena saya jarang berada di kampunh, hanya bisa mengamati dan menyimpulkan. Tidak dapat berbuat lebih, kecuali nanti kalau sudah merasa purna ngangsu kaweruh di jalanan dan memutuskan kembali menetap ke kampung halaman.

Satu pelajaran penting sebagai muhasabah saya pribadi, bahwa perkembangan pola pikir dan pergeseran gaya hidup harus didasari dengan pengetahuan yang kuat, supaya tidak terombang-ambing perkembangan dan merusak tatanan yang turun temurun menjadi ikatan pemersatu masyarakat desa.

Mlatirejo, 1 Syawal

Iklan

Bijaklah dalam Berkomentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.