Beda, Bertengkar, dan Minggat

(Bagian IV) “Yaa muqol libal qulub”. Hati manusia tak ubahnya seperti air mendidih. Sekarang baik, bijak, dan ramah, namun tak ada yang menjamin beberapa saat kemudian segala sifat baik yang melekat kepadanya akan bertahan. Bapak sampai di rumah saat ayam berkokok dan muadzin mengumandangkan adzan. Ia dijemput oleh adik ibuku, Lek Jam, begitu aku sering …

Lanjutkan membaca Beda, Bertengkar, dan Minggat

Merantau

(Bagian III) “Bapak pamit mencari nafkah dulu, Le. Sekolah yang pintar biar menjadi dokter.” “Nggih, Pak. Kalau bapak pulang, tolong bawakan aku mainan!” Bapak merantau ke Malang saat aku duduk di kelas 3 sekolah dasar. Di sana ia bekerja sebagai pengerajin meja antik. Kalau tak salah ingat, gaji perbulannya 3 juta, jumlah yang cukup besar …

Lanjutkan membaca Merantau

Bangkrut

(Bagian II) Apa yang telah didapat kemarin dan hari ini harus terus disyukuri. Tak peduli mendapat hal baik atau buruk sekalipun. Terkadang manusia lalai, hal buruk dianggap tak bermanfaat, sehingga membuat mata buta untuk melihat celah manfaat yang ada. Sebaliknya, tatakala mendapat hal baik, seketika itu ia melupakan celah buruk di dalamnya. Seperti bapakku yang …

Lanjutkan membaca Bangkrut

Bapak

(Bagian I) “Bapak yang baik selalu ada untuk keluarganya, bekerja keras demi pendidikan anaknya, dan tak hanya mendambakan, melainkan mendorong dan mengusahakan anaknya agar melebihi dirinya,” jawab bapak ketika kutanya. Begitulah bapak, ia selalu bijaksana meskipun tak memunyai ijazah apapun. Bapak berperawakan besar, namun tak terlalu tinggi. Rambutnya tak jauh berbeda denganku dan keempat saudaranya, …

Lanjutkan membaca Bapak