Driver Grab Jogja: Cukong Tanah Asu!

Tidak ada yang diinginkan petani, selain hidup yang ayem tentrem. Tak peduli saban hari peluh dan keringat membasahi tubuhnya demi menghidupi diri dan keluarga. Tapi bajingan perampas itu nyata dan berlipat ganda! Para petani tak pernah neko-neko. Asal mereka dapat menggarap sawah, merawat benih-benih yang mereka tanam sampai siap panen, dan dapat makan bila esok …

Lanjutkan membaca Driver Grab Jogja: Cukong Tanah Asu!

Rokok Mengandung Darah Babi Adalah Hoax yang Diulang-ulang

Isu rokok mengandung darah babi terus direproduksi dari tahun-tahun ke tahun dengan data dan angle yang sama. Sebagai negara berpenduduk muslim dengan konsusmsi makanan halal terbesar, Indonesia kerap kali tercemari oleh isu-isu berbalut agama yang beberapa kali mampu membuat kisruh atau setidak-tidaknya membuat ramai masyarakat, baik di dunia offline maupun online. Hal ini diakibatkan beberapa …

Lanjutkan membaca Rokok Mengandung Darah Babi Adalah Hoax yang Diulang-ulang

Ibadah Pangkal Pesta Seks di Surga

“Kelak di surga kita akan bebas menggelar pesta seks dengan para bidadari, mabuk-mabukan setiap hari dan melakukan apapun yang telah kita tahan di dunia ini. Hidup di dunia, kalau kata orang Jawa, mung mampir ngombe, artinya sangat sebentar. Maka, jangan sesekali berani melakukan segala hal yang dilarang oleh Pengeran. Apalagi melepaskan burung dalam sangkar sempakmu …

Lanjutkan membaca Ibadah Pangkal Pesta Seks di Surga

Guruku Bukan Tuhanku, Muridku Bukan Kerbauku!

Sekolah-sekolah mengukur kesuksesan para guru dalam mengajar jika murid-muridnya mampu mendapatkan nilai tinggi dalam segala bidang ilmu pengetahuan. Akhlak dan rangsangan dari seorang guru untuk menghidupkan nalar 'memanusiakan manusia' terkadang menjadi sesuatu yang tidak lagi penting untuk diajarkan. Fungsi pendidikan hanya terbatas pada bagaimana seorang murid mampu mengerjakan soal-soal pelajaran yang telah diramu dalam kurikulum, …

Lanjutkan membaca Guruku Bukan Tuhanku, Muridku Bukan Kerbauku!

Tunjukkan!

Kami kira bekerja dan mencintai wanita itu tiada bedanya. Orang tak perlu tahu seberapa banyak keringat yang kami peras dan bagaimana cara berusaha terus bangun meski berkali-kali jatuh, tak diacuhkan dan sering disia-siakan. Yang perlu kami tunjukkan adalah buahnya, kemudian manusia lian menjadi komentatornya. Kami sebagai generasi yang menjadikan Indomie makanan pokok, terus berusaha keluar …

Lanjutkan membaca Tunjukkan!

Terimakasih, HTI

“Sebagai makhluk Tuhan yang kebetulan memeluk Islam, saya menyampaikan belasungkawa yang amat begitu mendalam atas dibubarkannya Hizbut Tahrir Indonesia. Sebagai warga negara Endonesa yang kebetulan memeluk Islam, saya prihatin atas sikap pemerintah yang mak jegagik begitu saja membubarkan HTI, dengan alasan mulia demi NKRI. Sebagai wong cilik yang kebetulan memeluk Islam, saya sampaikan terimakasih banyak …

Lanjutkan membaca Terimakasih, HTI

Simbolik

Kita, atau barangkali hanya saya, lebih banyak menilai seseorang dari segala sesuatu yang tampak di mata. Dengan berpedoman pada apa-apa yang tampak itu, seringkali kita, atau barangkali hanya saya, melakukan tindakan-tindakan yang buruk: menyepelekan orang lain; menganggap seseorang lebih tinggi atau lebih rendah; melakukan penghakiman-penghakiman dengan standarisasi subjektif dan lebih parahnya, mengabaikan serta merendahkan orang …

Lanjutkan membaca Simbolik

Silahkan Gila Drama Korea, Asal Dikau Tetap Endonesa!

Menonton drama Korea adalah suluk untuk belajar rasa. Bagaimana menghidupkan fungsi rasa, yang tidak hanya berada di lidah saja. Belajar ilmu zuhud; tidak bergantung dengan kekayaan dan seluruh hal yang manusia inginkan. Dan yang paling penting, --yang barangkali manusia-manusia sok jijik terhadap drama Korea harus tau— drama Korea adalah guru yang mengajarkan ilmu ukhuwah wathoniyah, …

Lanjutkan membaca Silahkan Gila Drama Korea, Asal Dikau Tetap Endonesa!

Berperang dengan Pena

Mbah Ihsan Jampes, pengarang kitab Siraj at Thalibin, suatu ketika, saat sedang ngopi, dikritik seseorang. "Kiai kok gaweannya cuma ngopi dan udud saja," begitulah kurang lebih bahasa kekiniannya. Mbah Ihsan tak marah. Ia diam mendengarkan sembari menyelesaikan hajat ngopinya. Lalu ia pulang, bersemedi beberapa saat dan menelurkan karya fenomenal Irsyad al-Ikhwan fi Bayan Hukmi Syurb …

Lanjutkan membaca Berperang dengan Pena